Minggu, 29 Juni 2014

uleni terus sampai kalis



dengan bekal semangat yang menggebu-gebu hari ini diriku masuk dapur dan menyapa si oven baru *cihiyyyyy akhirnya punya oven juga neh...
Rencananya sih mo bikin roti manis. Masuk dapur dengan bekal 4 resep roti manis dan merasa sudah menyiapkan semua bahan yang diperlukan, dan di tengah proses baru sadar kalo saya kelupaan satu bahan super penting, maka siaplah saya untuk 'berjibaku' dengan si tepung dan kawan-kawannya.

masukkan ini, itu, ini, itu, kemudian campurkan. Tuangkan sedikit demi sedikit air es dan uleni hingga kalis. Sampai di tahap ini, maka dimulailah segala kebisingan di dapur yang tadinya adem ayem itu.

Uleni hingga kalis. 
Owkeh beibehhhhh, mari qta mulai menguleni. 
Menit-menit pertama masih menguleni dengan senyum. Belasan menit kemudian mule curigesyen dengan adonan yang tak kunjung kalis. Menit berikutnya terdengar suara riang si krucil yang saat itu rasanya seperti suara sirene yang memacu tensi saya. 
"bundaaaaa, apa ini?" sambil nyolek margarin
"bundaaaaa...ini susu imey?" sambil berusaha merebut susu bubuk di sebelah wadah adonan saya.
"bundaaaa...boleh?" sambil nyegir dan merampas bungkus fermipan.
saya menguleni dengan satu tangan sementara tangan lainnya berusaha mengamankan sisa bahan dari penjajahan si krucil.

Saya mule menebak-nebak buah manggis ketika sudah menit kedua puluh tapi adonannya tetep blom kalis. 
Ahhh...kayaknya perlu tambah tepung nih. 
Jangan! memang di situ kuncinya. Uleni terus sampai kalis!
Tambah deh kayaknya, mosoq udah selama ini blom kalis juga?
Jangan!
Udah cepet tambah! pegel tauk ini tangan dari tadi ngulenin mulu...
Singggg....secepat kilat tepung baru sudah bertaburan di dalam wadah. Tapi si adonan masih blom kalis juga sodara-sodara! Eaaa...eaaaa...terlanjur, ayo kita tambah lagiiii

Suddenly....brakk! Tab saya, yang saat itu jadi buku pinter saya dengan setumpuk catatan resep, sukses melayang dari atas toples gula dan mendarat dengan mengajak toples bumbu terjun bebas ke dalam mangkok kuning telur buat olesan.
Pelakunya? nona kecil yang sedang berdiri di samping saya yang saat itu sedang memamerkan senyum innocentnya seolah mau bilang; hei bun, atraksi tadi itu berkat kelincahan gerakan tanganku lohhhhh..hebat kan?

Adonan ga kalis-kalis, dapur semrawut plus adegan tadi, akhirnya saya sukses berteriak marah menyuruh si krucil itu masuk kamar aja dan main dengan babenya. Dia langsur ngacir karna serem liat bundanya kayaknya. Dan saya baru sadar, saya lupa menambahkan satu bahan penting! saya lupa menyiapkan bahan bernama kesabaran!

Bagoessssss........saya terus menguleni sambil terus menambah tepung sambil terus berikrar kalo ini adalah roti pertama dan terakhir yang saya buat. Kapok saya.

Roti selese dipanggang, harumnya menggugah selera, bentuknya cantik (secantik kokinya)...rasanya? menurut saya aneh (makannya dengan perasaan kesel plus menyesal udah menambah tepung seenaknya), tapi menurut si krucil dan papanya enak karna dari tadi cuma mereka yang ngabisin itu roti.

Pertempuran saya di medan dapur menghasilkan roti yang tidak lembut. Penyebabnya? karena ketidaksabaran saya dalam menguleni, buntut-buntutnya saya memilih untuk menambahkan tepung lagi dengan takaran yang over. 

Owkehhhhh....silakan tertawa deh. Silakan mengolok-olok saya. Silakannnnn....wong saya plus hubby juga ketawa ketiwi ngeliat ketidaklembutan si roti itu.

Lucunya, hal yang sama malah sering kita lakukan dalam keseharian kita. Menambahkan 'tepung' karena ketidaksabaran kita dalam proses. Iya kan? hayo ngaku.
Berapa sering kita 'mengambil jalan pintas' karena kita tak sabar dengan doa yang belum dijawab.
Kita berdoa. Sebulan, dua bulan, setahun, belasan tahun dan doanya tak kunjung dijawab. 
Tuhan bilang "ayo jalan terus....pintu keluarnya di depan sana"
kita pun berjalan. 
Masalahnya di sana-nya Tuhan dengan di sana-nya kita ternyata tak sama.
Kita mulai berpikir ''kayaknya salah nih...kayaknya memang ga ada jalan keluarnya"
Padahal Tuhan bilang "sabarrrrr...ini memang prosesnya. itu di depan pintunya''
dan karena ketidaksabaran kita maka kita pun mulai menambah 'tepung' yang tidak perlu hanya supaya prosesnya bisa dipercepat dan hasil akhirnya bisa langsung terlihat.

Saya sedang berdoa untuk sesuatu. Saya tahu dan saya percaya kalau saya pasti akan mendapatkan apa yang sedang saya doakan. Hampir setahun saya berdoa dan saya masih belum menerima apa yang saya doakan. Honest to say, kadang2 saya tergoda untuk berhenti berdoa karena lelah. 

Tapi kesalahan saya dengan menambah tepung hari ini seolah saya sedang melihat roti itu seperti diri saya sendiri. Seolah saya diingatkan bahwa ketika saya tidak sabar dalam proses maka hidup saya akan berakhir seperti roti itu. Tidak lembut.

Simpel, tapi menusuk.

jadi kalau nanti saya tergoda untuk berhenti berdoa karena lelah, saya akan ingat baik-baik kalimat dalam resep roti saya tadi "uleni terus sampai kalis"  

Jangan mencoba untuk menambah tepung, uleni saja terus sampai kalis...




Ps: masih inget sebelumnya saya janji ini adalah roti saya yang pertama sekaligus yang terakhir? janji itu teringkari, saya baru saja mempelajari resep roti lainnya dan bertekad akan mencobanya lagi =p


Kendari, June 30, 2014
lagi2 tengah malam buta
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar