Jumat, 20 Juni 2014

selamat bobok il'mare...


Kalau malam sudah datang, maka moment yang paling menyenangkan adalah ketika melihat si kecil terlelap. 

Seperti sekarang ini. 
Dan ketika menatapnya terlelap dengan begitu pulas, selalu 2 hal ini yang muncul; pertama perasaan bahagia karena berhasil melewati 1 hari lagi sebagai ibundanya, bisa menjaganya, bisa merawatnya, bisa menemaninya bermain, bisa mengasuhnya sendiri. 
Kedua, perasaan bersalah karena hari ini sudah memarahinya, melihatnya menangis atau bersedih karena dimarahi. 
Hal yang kedua selalu membuat saya merasa ingin mengulang waktu kembali. Mengulang hari supaya saya tidak perlu memarahinya atau melihatnya menangis sedih karena dimarahi. Supaya saya hanya akan melihatnya selalu tertawa, selalu senang, selalu bahagia dan bebas dari air mata (ciri-ciri klasik ibu-ibu ya...)

Tapi kemudian saya tersadar. 
Kalau hari ini saya hanya selalu ingin melihatnya tertawa, senang, bahagia dan bebas dari air mata maka berarti saya sedang membahayakannya karena beberapa tahun kemudian saya akan menemukannya tumbuh menjadi anak yang egois, keras kepala, merasa selalu benar dan tidak bisa ditegur.

Beberapa orang akan berkata "il'mare masih kecil, jangan dimarahi." "Yah namanya juga anak-anak, kalau salah dimaklumi saja." "Biarkan saja, nanti kalau sudah besar baru dikasih tahu pelan-pelan"

Yaps, saya mengerti dia masih kecil. 
Karena itulah beberapa kesalahannya masih bisa saya tolerir. 
Saya mengerti ketika dia 'memporakporandakan' semua mainannya ke karpet kemudian menaruh mainan-mainan itu di seluruh penjuru rumah ketika dia sedang bermain. 
Saya mengerti ketika semua permainan masak-masakannya masih terhambur di depannya, kemudian dia merasa bosan dan berpindah ke dalam kamar, mengacak-acak bonekanya dan meninggalkan begitu saja perkakas masak-masaknya. 
Saya mengerti ketika jam makan tiba dan dia ngotot makan sendiri tanpa disuap dengan hasil makanan yang terhambur-hambur di sekitarnya. 
Karena itu memang bagian dari proses belajarnya. 

Tapi ada hal-hal mendasar yang perlu saya tanamkan padanya sejak usianya masih sangat dini.

Siang ini jam tidur tiba. 
Saya mengajaknya masuk ke dalam kamar untuk tidur. As usually, sebelum benar-benar tidur harus ada kegiatan pengantar tidur. Mulai dari melompat-lompat di atas kasur, menyanyi, joget-joget, lari-larian di dalam kamar, sampai modus bolak-balik minta minum supaya saya keluar kamar mengambil minum dan dia bisa melarikan diri, ckckck....

"il'mare, ayo tidur sayang...mainnya udahan ya, sekarang waktunya tidur" alarm pertama berbunyi...tapi si kecil ini masih tak peduli. Main lanjut terusss..

Alarm kedua berbunyi, masih dengan nada ramah bersahabat.

"il'mare, stop it. Berhenti bermain dan naik ke tempat tidur. Sekarang waktunya tidur" kali ini nada suara saya sudah tak seramah tadi. Alarm ketiga sudah berbunyi. 
Dan cukup ampuh, karena akhirnya dia naik juga ke tempat tidur.

Tapi perjuangan belum selesai rupanya. Di tempat tidur dia masih melanjutkan lompat-lompatannya.

Saya melirik jam dinding. 
Okei, waktu toleransi sudah habis. Time out. 
Kali ini si kecil ini harus benar-benar tidur!

Maka saya pun mengeluarkan nada suara tegas "il'mare, bunda bilang berhenti! sekarang cepat tidur."

Entah hanya karena ingin meniru atau apa, si kecil itu tiba-tiba membentak saya "bunda! tidak mau!"

Maka mulailah episode Il'mare Kena Marah. 

Saya memarahinya. 
Mengajarkannya bahwa membentak orang yang lebih besar bukan sesuatu yang bisa dilakukannya. Bahwa alasan saya memarahinya adalah karena dia tidak menuruti perkataan bundanya. Bahwa melawan bunda itu bukan hal yang baik. Simpel. Cuma seperti itu. 

Tapi si kecil itu ternyata menangis. 
Saya biarkan dia menangis sebentar kemudian saya bertanya "kenapa il'mare nangis?"
"kayena bunda mayah"
"trus kenapa bunda marah?"
"kayena Imey bentak bunda"

Saya pun memeluknya, "bunda kan sayang il'mare jadi bunda tidak mau il'mare jadi anak nakal. Nah kalau bentak bundanya itu artinya anak nakal."
Kemudian dia berbaring dalam pelukan saya dan tertidur sambil saya usap-usap rambutnya.

Untuk sekarang, mungkin dia tidak mengerti definisi Anak Nakal. 
Tapi minimal saya tahu saya sudah memberikan batasan penting baginya. 
Untuk menghormati dan mendengarkan ucapan orang yang lebih tua, terlebih orang tuanya. Seandainya saya tidak mendisiplinkannya, saya takut di kemudian hari dia menjadi orang yang tidak mengenal otoritas sehingga memperlakukan orang lain sesuka hatinya. 

Dan meskipun saya membayarnya dengan melihatnya menangis sedih, saya tahu di kemudian hari apa yang akan saya tuai.

Selamat bobok il'mare, bunda selalu sayang il'mare....

Kendari
June 21, 2014.




Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar