Orang bilang kita tidak boleh terlalu sering menoleh ke belakang supaya kita bisa maju.
Saya merasa sudah tidak menoleh ke belakang. Setelah melewati beberapa waktu yang terlalu amat sangat tidak menyenangkan (fiuh, really won’t remember those moments!), sekarang di sinilah saya berada. Di duniaku yang dulu, dunia yang tenang.
Tapi rasanya saya perlu menoleh sebentar ke belakang…
Eits, ini bukan untuk meratap, menangis, menyesal atau apalah yang sejenis dengan itu. Ini sekedar menjadi suatu cerita untuk siapapun yang membacanya.
Tahu batu? dulu, kalau pulang sekolah saya suka jalan sambil nendangin batu-batu kecil yang ada di depanku. Sampai sekarang kalau lagi jalan dan ketemu batu, saya masih suka menendangnya. No reason why. Yah kan cuma batu ini. Biar saya tendang, saya pungut trus saya lempar, saya buang atau saya apain kek, toh dia ga akan protes. Dia kan ga punya perasaan.
Kan cuma batuuuuuuu……!
Beberapa waktu yang lalu, saya ketemu lagi dengan batu.
Cuma kali ini saya ga berani menendang batu itu (seperti yang selama ini saya lakuin), ya iyalah…wong batunya gede!
Udah gitu ada matanya, hidung, kaki, tangan, ginjal, jantung, paru-paru, usus, mulut, dll…dan ada nafasnya!
Batu bernyawa. Batu yang menjelma dalam wujud manusia!
Salah! saya terlalu hiperbola rasanya.
Bukan batu dalam wujud manusia, lebih tepatnya sebenarnya saya ketemu manusia kok (swear deh, manusia beneran…) cuma……..kayaknya hatinya terbuat dari batu alias tidak berperasaan. Persis batu.
Si batu itu (begitu saja kita akan menyebutnya mulai sekarang), datang dalam hidupku dengan kepolosannya yang menipu itu!! (Grrrr....really regret it! nyesel abis!).
Begitu banyak waktu yang saya telah lewati dengan Si batu itu akhirnya begitu banyak juga pelajaran yang bisa membuat saya lebih dewasa dan lebih tough. Dunia ini isinya bukan manusia semua. Batu juga ada.
Honestly, saya merasa sedikit takjub. Di dunia ini kok ada ya orang-orang yang begitu tidak berperasaannya ?
kok ada orang yang begitu miripnya dengan batu?!
Waktu saya berbuat baik, Si batu itu tidak berterima kasih.
Waktu saya peduli, Si batu itu sibuk memberdayakan kekerasannya untuk melukai hati.
Waktu saya percaya, Si batu itu berbohong.
Waktu saya memaafkan, Si batu itu membuat ulah lagi.
Bicara lain, perbuatan lain.
Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.
Kacang lupa sama kulitnya.
Tidak bisa dipercaya, payah!
Si batu pikir dia bisa setiap saat memperlakukan orang lain sesuka hatinya. Si batu pikir dirinya Baginda Raja jadi semua orang harus tunduk pada titahnya. Sayangnya Si batu itu tidak pernah berpikir seperti apa perasaan orang lain akibat perkatan dan perbuatannya. Sepertinya semuanya dilakukan Si batu dengan sengaja. Atau mungkin karena batu jadi dia tidak bisa merasakan kalau kelakuannya sudah sangat memuakkan?!!
Batu….., bisa tidak kamu berhenti membuat luka atau goresan pada setiap orang yang bersentuhan denganmu ???
Pengen sekali bisa menendang Si batu itu, seperti yang dulu biasa saya buat sambil berjalan. Menendangnya jauhhhhhhhhhhhh………sekali, supaya sekalian aja batu itu keluar daru gugusan planet tata surya kita ini.
Akhirnya sy merasa capek sendiri.
Saya sadar, saya tidak akan pernah bisa mengubah apapun.
Tergantung Si batu itu sendiri, mau berubah atau tidak.
Capek saya dekat-dekat batu itu, salah-salah nanti saya ikut-ikutan jadi batu pula.
Hup..!
Sekarang saya kembali menoleh ke depan lagi dan meneruskan perjalananku. Bersemangat dan merasa lebih ringan karena batu itu sudah tidak saya bawa lagi.
Loh ?! Memangnya batunya ditaro di mana ?
Umh..mm…batunya udah saya buang. Saya lempar sekuat tenaga di Pantai Losari (huehehe…^0^) dan bersemayamlah dia di dalam laut (walopun sebenarnya saya sangat pengen membuangnya dengan cara menendangnya, tapi sayang tak mampu saya melakukannya saudara-saudara!
Saya kan manusia, bukan batu yang tidak berperasaan…
Makassar
19.11.08 @ office.
Share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar